Download Klik Sini
Friday, 16 May 2014
CARA EVALUASI KURIKULUM 2013
Kawan yang butuh format Raport dan daftar Nilai Kurikulum 2013 ini dokumen dari Mas Teguh, Mbak Isti dan Mbak Nisya. Semoga bermanfaat..
KHARAKTERISTIK PERKEMBANGAN FASE ANAK USIA SEKOLAH DASAR DARI ASPEK SOSIAL, EMOSI DAN KESADARAN KEAGAMAAN
MAKALAH
KHARAKTERISTIK
PERKEMBANGAN FASE ANAK USIA SEKOLAH DASAR
DARI
ASPEK SOSIAL, EMOSI DAN KESADARAN KEAGAMAAN
Disusun
Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah
Perkembangan
Peserta Didik
Dosen
Pengampu :
Dr. Tri Suminar, M.Pd
Disusun
Oleh:
BAMBANG SUJARWO ( 0103513081 )
FARINKA NURRAHMA AZIZAH ( 0103513071)
PROGRAM
PASCA SARJANA
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji Syukur kami panjatkan kepada
Allah SWT atas cucuran kemudahan dan keluasan pikiran yang diberikan-Nya atas
selesainya makalah ini. Melalui makalah ini, kami berharap akan menambah
pengetahuan dan kemantapan hati pada perjalanan menempuh magister PGSD di
Pascasarjana UNNES ini. Lebih khusus terhadap Mata Kuliah Perkembangan Peserta
Didik di semesster II ini. Dan bersyukurlah bila ada seklumit manfaat bagi
rekan-rekan pembaca.
Kami akan merasa tersanjung jika dalam penulisan ini akan ada penyempurnaan dari
pembaca. Karena dengan begitulah makalah kami ini akan menjadi sesuatau yang
lebih baik, dan guna kesempurnaan pada makalah kami yang selanjutnya. Berikutnya kami berharap semoga makalah ini dapat menghantarkan
kesempurnaan bagi kita Amin...
Akhir ucap kami selaku
penyusun tak hentinya melantunkan terimakasih dan terimakasih atas kesediaan
pembaca meluangkan waktu untuk berkutat dengan makalah kami.
Wassalamu’allaikum Wr. Wb.
Semarang,
April 2014
Penyusun,
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun
2003 pasal 17 ayat 1 yang menyebutkan bahwa “ Pendidikan dasar merupakan
jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.” Dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan untuk SatuanPendidikan Dasar (Tahun 2013 Semester
I&II) dijelaskan bahwa “TujuanPendidikan Dasar adalah meletakan dasar
kecerdasan, pengetahuan,kepribadian, akhlaq mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri danmengikuti pendidikan lebih lanjut.”
Pendidikan dasar adalah
tonggak awal siswa dalam merengkuh ketahuannya di ruang formal. Walaupun
sebenar-benarnya lingkungan keluargalah sebagai akar dari ketahuan siswa
tersebut. Anak yang berada di usia
Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama adalah anak yang berada pada
rentangan usia kritis. Masa usia ini merupakan masa perkembangan anak yang
pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena
itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga
akan berkembang secara optimal.
Membekali peserta didik agar cerdas secara intelektual
pengetahuan sosial, emosi dan kesadaran keagamaan merupakan peran guru di
sekolah. Maka guru sebagai pengajar maupun pendidik memiliki peran besar terhadap
siswa dan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Sejalan dengan itu guru
juga harus menguasai keterampilan dalam mengajar agar dapat mengelola proses
pembelajaran dengan baik yang berimplikasi pada peningkatan kualitas lulusan
sekolah dan diharapkan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul
dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Rita eka izzaty, dkk dalam bukunya Pekembangan
Peserta Didik (2008;8) menyebutkan bahwa perkembangan manusia merupakan proses
yang kompleks yang dapat dibagi menjadi empat ranah utama, yaitu perkembangan
fisik, intelektual yang termasuk kognitif dan bahasa, serta emosi dan sosial,
yang didalamnya juga termasuk perkembangan moral. Seorang anak yang berada
dalam kesehatan fisik dan emosional yang baik dan terbuka pada berbagai
pengalaman sosial, akan mampu belajar lebih dari pada anak yang berada pada
situasi sebaliknya.
1. Apa itu perkembangan fase
anak usia sekolah dasar?;
2. Bagaimana kharakteristik perkembangan
fase anak usia sekolah dasar dari aspek sosial?;
3. Bagaimana kharakteristik perkembangan
fase anak usia sekolah dasar dari aspek emosi?;
dan
4. Bagaimana kharakteristik perkembangan
fase anak usia sekolah dasar dari aspek keagamaan?.
A. Perkembangan
Fase Anak Usia Sekolah Dasar
Dalam pengkajian perkembangan ada dua istilah
yang patut dibedakan, pertama yaitu pertumbuhan (growth), dan yang kedua adalah istilah perkembangan (development). Istilah pertumbuhan digunakan kepada perubahan-perubahan
yang bersifat fisik (kuantitatif) dan
berkaitan dengan sifat fisik. Misalnya; ukuran berat dan tinggi badan, ukuran
dimensi sel tubuh, umur tulang, dsb. Sedangkan istilah perkembangan dititik beratkan pada aspek-aspek yang bersifat
psikis (kualitatif), berkaitan dengan
pematangan fungsi organ tubuh. Misalnya bertambahnya kemampuan dalam struktur
dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, contohnya dalam
perkembangan bahasa, emosi, intelektual, dan perilaku.
Masa usia sekolah atau masa sekolah dasar
seringkali dalam ilmu perkembangan disebut sebagi masa kanak-kanak akhir. Masa ini dialami pada anak usia 6 tahun
sampai masa pubertas dan masa remaja awal yang berkisar pada usia 11-13 tahun.
Pada masa ini anak sudah matang bersekolah dan sudah siap masuk sekolah dasar.
Masuk sekolah untuk pertama kalinya
memberikan pengalaman baru yang menuntun anak untuk mengadakan penyesuaian
lingkungan sekolah. Pengalaman siswa masuk kelas satu merupakan peristiwa
penting bagi kehidupan anak sehingga mengakibatkan perubahan dalam bersikap,
nilai dan perilaku. Pada awal masuk sekolah sebagian anak mengalami ganguan
keseimbangan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sekolah.
Menurut piaget (Izzati Rita Eka, Dkk 2008;119)
masa ini berada dalam tahap operasi konkret, dimana konsep yang semula
samar-samar dan tidak jelas sekarang lebih konkret, mampu memecahkan
masalah-masalah yang aktual, mampu berfikir logis. Berkurang rasa egonya,
menerima pandangan orang lain, materi pembicaraan lebih ditujukan kepada orang
lain. Anak berfikir induktif, (khusus-umum). Memiliki konsep yang lebih baik
mengenai konsep ruang, sebab akibat, kategorisasi, konservasi, dan tentang
jumlah. Anak mulai memahami jarak, hubungan antara sebab dan akibat yang
ditimbulkan, kemampuan mengelompokan benda berdasarkan kriteria tertentu, dan
menghitung. Anak mampu mengklasifikasikan dan mengurutkan suatu benda
berdasarkan ciri-ciri suatu objek.
B. Kharakteristik
Perkembangan Fase Anak Usia Sekolah Dasar dari Aspek Emosi
Kata emosi berasal dari bahasa latin emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan
bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi, pada dasarnya dalah dorongan untuk
bertindak. Tingkah laku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan
senang atau tidak senang. Beberapa contoh emosi yang lain adalah gembira,
cinta, marah, takut, cemas, benci, dll.
Emosi pada
anak memainkan peranan yang penting dalam kehidupannya. Akibat dari emosi ini
juga dirasakan oleh fisik anak terutama bila emosi itu kuat dan
berulang-ulang. Seorang anak dengan
kondisi keluarga yang kurang atau tidak bahagia, rasa rendah diri, memungkinkan
terjadinya tekanan perasaan atau emosi.
Misalnya
saja; takut, amarah, cemburu, irihati, emosi ini sering disebut emosi yang
tidak menyenangkan atau “unpleasant emotion”, yaitu emosi yang merugikan anak.
Sedangkan emosi yang tidak saja membantu perkembangan anak tetapi sesuatu yang
sangat penting dan dibutuhkan bagi perkembangan anak adalah emosi yang
menyenangkan atau “pleasant emotion” seperti; kasih sayang, kebahagiaan, rasa
ingin tahu, dan suka cita.
Pergaulan
yang semakin luas dengan teman sekolah dan teman sebaya lainnya dapat
mengembangan emosi anak. Anak mulai belajar bahwa ungkapan emosi yang kurang
baik tidak diterima oleh lingkungan sekitar dalam hal ini adalah
teman-temannya. Anak mulai belajar mengontrol emosi yang tidak disukai seperti;
marah, menyakiti perasaan teman, menakut-nakuti dan sebagainya. Hurlock dalam
Rita Eka Izzaty, dkk (2008;112) menyatakan bahwa ungkapan emosi yang muncul
pada masa ini masih sama dengan sebelumnya, misalnya: amarah, takut, cemburu,
ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang.
Ada beberapa
ciri-ciri emosi pada masa kanak-kanak, diantaranya;
1.
Emosi anak berlangsung lebih singkat (sebentar)
Berlangung hanya beberapa menit saja dan
tiba-tiba. Hal ini disebabkan karena emosi anak menampakkan dirinya di dalam
kegiatan atau gerakan yang nyata/ nampak, sehingga menghasilkan emosi yang
pendek, tidak seperti pada orang dewasa. Emosi ini berupa; kesedihan, kemurungan,
ketakutan, ketegangan, kebahagiaan, humor, dan sebagainya.
2.
Emosi anak hebat dan kuat
Hal ini nampak ketika anak : takut, marah,
tertawa terbahak-bahak meskipun kemudan cepat hilang. Berbeda dengan orang
dewasa yang dapat menekannnya. Misalnya meskipun sangat takut , ketakutan itu
tidak begitu nampak kuat, serupa ketika mereka marah atau bergurau, marah dan
tertawanya dapat dikendalikan.
3.
Emosi anak mudah berubah
Acap kali kita lihat anak yang baru saja
menangis tiba-tiba tertawa atau sebaliknya, dari tertawa tiba-tiba menangis.
Atau marah tiba-tiba tersenyum. Sering terjadi perubahan, saling berganti-ganti
emosi dalam waktu singkat.
4.
Emosi anak nampak berulang-ulang
Hal ini muncul karena anak-anak masih dalam
masa perkembangan ke arah kedewasaan. Ia harus mengadakan penyesuaian dengan
lingkungan sekitar dan situasi di luar kondisi anak. Hal ini dilakukan secara
berulang-ulang. Misalnya anak sering menangis, sering marah, sering takut, ini
dilakukan dalam upayanya menstabilkan kondisi jiwanya dengan kondisi sekitarnya.
5.
Respon emosi anak berbeda-beda
Bedasarkan pengamatan terhadap anak dengan
bergbagai level usia, menampakkan variasi respon emosi. Pada waktu bayi lahir,
pola responya sama. Namun secara berangsur-angsur, pengalaman belajar dari
lingkungannya membetuk tingkah laku dengan perbedaan emosi secara individual.
Misalnya respon anak ketika diajak ke dokter, ada yang merespon dengan
memperlihatkan ketakutan, biasa saja bahkan ada yang senang.
6.
Emosi anak dapat diketahui atau dideteksi dari gejala tingkah lakunya
Anak-anak kadang tidak memperlihatkan
emosinya secara langsung, namun bisa dideteksi dari tingkah laku yang nampak
pada anak tersebut, contohnya menghisap jari, sering menangis, melamun,
gelisah, dan sebagainya.
7.
Emosi anak mengalami perubahan dalam kekuatannya
Kadang emosi anak terlihat begitu kuat
kemudian berkurang. Dan emosi yang lain dari lemah kemudian berubah menjadi
kuat. Misalnya ketika anak malu-malu di tempat atau di depan orang yang masih
asing. Kemudian ketika sudah merasa tidak asing lagi rasa malunya akan
berkurang dah bahkan menghilang.
8.
Perubahan dalam ungkapan-ungkapan emosional
Anak-anak memperlihatkan keinginannya yang
kuat terhadap apa yang mereka inginkan. Dia tidak akan mempertimbangkan bahwa
hal tersebut dapat merugikan dirinya sendiri atau orang lain. Bila keinginan
tersebut tidak terpenuhi akan timbul kemarahan. Misalnya ketika seorang ingin
mandi padahal kondisi badanya tidak memungkinkan untuk mandi, atau ketika anak
menginginkan mainan yang harganya diluar jangkauan orang tuanya, ataupun ketika
seorang anak tersebut menginginkan mainan yang dimiliki oleh anak lain dan anak
lain tidak memperbolehkannya untuk memiliki atau meminjamkannya. Sebaliknya
jika ia merasa senang, bahagia, tanpa melihat waktu dan tempat tiba-tiba saja
akan meluapkannya. Misalnya dengan tersenyum, tertawa, tersipu-sipu, meskipun
orang lain kadang-kadang tidak mengerti dan mengetahui apa yang sedang
dirasakan oleh anak tersebut.
C. Kharakteristik Perkembangan
Fase Anak Usia Sekolah Dasar dari Aspek Sosial
Menurut lewis (carapedia.com) sosial diartikan sebagai sesuatu
yang dicapai, dihasilkan dab ditetapkandalam interaksi sehari-hari antara warga
negara dan pemerintahnya. Lebih sederhana lagi pengertian yang kemukakan oleh
Keith Jacobs yaitu sesuatu yang dibangun dan terjadi dalam sebuah situs
komunitas
D. Kharakteristik Perkembangan
Fase Anak Usia Sekolah Dasar Dari Aspek Keagamaan
A.
Kesimpulan
Dari uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka setiap
pembahasan mengenai ilmu pengetahuan diharapkan melalui kajian landasan
filosofis, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi agar upaya dan usaha yang
menjadi program dalam pendidikan dasar dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah.
|
Supriyanto,
Stefanus. 2013. Filsafat Ilmu. Cetakan
Pertama. Jakarta: Prestasi Pustaka.
|
|
Zusnani,
Ida. 2013. Pendidikan Kepribadian Siswa SD-SMP. Yogyakarta: Tugu.
|
|
|
|
|
|
|
ANALISIS BUTIR SOAL
ANALISIS BUTIR SOAL
Disusun Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Assesmen Pendidikan Dasar
Dosen Pengampu :
Dr. Ali Sunarso, M.Pd
Disusun Oleh :
MASKURI NIM
0103513087
ISTI MARYANI WARDANA NIM
0103513066
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN DASAR
KONSENTRASI PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya tujuan umum penyusunan tes
adalah untuk memperoleh tes dengan jumlah item minimum, namun dapat
menghasilkan skor pengukuran dengan tingkat reliabilitas dan validitas yang tinggi. Oleh karena itu, setelah
item ditulis sesuai dengan kaidah penulisan tes yang baik dan sesuai dengan
kisi-kisi yang direncanakan, yang secara teoritik tes tersebut sudah baik.
Sehingga, perlu untuk dilakukan pengujian empirik. Pengujian item tes secara
empirik inilah yang disebut sebagai analisis item tes.
Analisis (item analysis) soal berkaitan dengan proses mengumpulkan,
meringkas, dan menggunakan informasi tentang tiap butir soal tes, terutama
informasi tentang jawaban siswa terhadap butir soal tersebut. Analisis soal
untuk tes standar berbeda dengan analisis soal untuk tes buatan guru. Yang
lebih diperlukan dikelas adalah analisis soal untuk tes buatan guru. Dengan
pengertian demikian, maka yang perlu diketahui mengenai kualitas soal dengan
analisis itu adalah tingkat kesukarannya, daya pembedanya, pola jawaban soal,
dan hubungan tiap butir soal dengan skor keseluruhan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian analisis
butis soal tersebut?
2. Apa saja Teknik penganalisisan item tes hasil
belajar?
3. Manfaat dari analisis butir soal atau item tes
buatan guru?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN ANALISIS BUTIR SOAL
Analisis
butir soal (item) adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan
perhitungan dan pengukuran respons subjek terhadap suatu item (Crocker &
Algina,1986). Analisis
tes adalah salah
satu kegiatan dalam
rangka mengkonstruksi tes
untuk mendapatkan gambaran tentang mutu tes, baik mutu keseluruhan tes
maupun mutu tiap
buutir soal/tugas Analisis dilakukan setelah tes disusun dan
dicobakan kepada sejumlah subyek dan hasilnya
menjadi umpan balik
untuk perbaikan/peningkatan mutu
tes bersangkutan. Oleh karena itu kegiatan analisis tes merupakan
keharusan dalam keseluruhan proses mengkonstruksi tes.
Secara umum, analisis item bertujuan untuk
menentukan apakah suatu item merupakan item yang baik atau buruk sebagai suatu
alat ukur, sehingga memungkinkan kita untuk memperpendek atau memperpanjang
suatu tes sekaligus meningkatkan validitas dan reliabilitasnya. Analisis item
dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif.
1.
Analisis Butir Soal Secara Kualitatif
Pada prinsipnya analisis butir soal secara
kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis,
perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan
atau diujikan. Aspek yang diperhatikan dalam penelaahan secara kualitatif
mencakup aspek materi, konstruksi, bahasa atau budaya, dan kunci jawaban.
Ada beberapa teknik yang digunakan untuk
menganalisis butir soal secara kualitatif, yaitu teknik moderator dan teknik
panel. Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang didalamnya terdapat
satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal
didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli.
Sedangkan teknik panel adalah teknik
menelaah butir soal berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Kaidah itu
diantaranya adalah materi, kontruksi, bahasa atau budaya, kebenaran kunci
jawaban. Caranya beberapa penelaah diberikan beberapa butir soal yang akan
ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penelaahan.
Dalam menganalisis butir soal secara
kualitatif penggunaan format penelaahan soal akan membantu dan mempermudah
prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk
menganalisis setiap butir soal. Format penelaahan yang dimaksud adalah format
penelaahan butir soal: constructed
response, selected response, tes perbuatan dan instrumen non tes.
2. Analisis
Butir Soal Secara Kuantitatif
Penelaahan
soal secara kuantitatif adalah penelaahan butir soal didasarkan pada bukti
empirik. Salah satu tujuan utama pengujian butir-butir soal secara emperik
adalah untuk mengetahui sejauh mana masing-masing butir soal membedakan antara
mereka yang tinggi kemampuannya dalam hal yang didefinisikan oleh kriteria dari
mereka yang rendah kemampuannya. Data empirik ini diperoleh dari soal yang
telah diujikan.
Ada dua pendekatan
dalam analisis secara kuantitatif yaitu pendekatan secara klasik dan
modern.Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal
melalui informasi dari jawaban peserta tes guna meningkatkan mutu butir soal
yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Pada teori tes klasik,
analisis item tes dilakukan dengan memperhitungkan kedudukan item dalam suatu
kelas atau kelompok. Karakteristik atau kualitas item sangat tergantung pada
kelompok dimana diujicobakan sehingga kualitas item terikat pada sampel
responden atau peserta tes yang memberikan respons (sample bounded).Ada
beberapa kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, sederhana,
familiar, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer dan
dapat menggunakan beberapa data dari peserta tes.
Analisis butir soal secara modern adalah penelaahan butir
soal dengan menggunakan teori respon butir atau item response theory.
Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk
menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu butir dengan kemampuan siswa.
Teori
ini muncul karena adanya beberapa keterbatasan pada analisis secara klasik,
yaitu:
a. Tingkat
kemampuan dalam teori klasik adalah true score. Artinya, jika
suatu tes sulit maka tingkat kemampuan peserta tes akan rendah.sebaliknya, jika
suatu tes mudah maka tingkat kemampuan peserta tes tinggi.
b. Tingkat
kesukaran butir soal didefinisikan sebagai proporsi peserta tes yang menjawab
benar. Mudah atau sulitnya butir soal tergantung pada kemampuan peserta tes.
c. Daya
pembeda, reliabilitas, dan validitas tes tergantung pada kondisi peserta tes.
B. TEKNIK
PENGANALISISAN ITEM TES HASIL BELAJAR
a.
Teknik Analisis Derajat Kesukaran Item
Bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar pertama-tama dapat
dilihat dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki masing-masing butir
item. Angka yang dapat memberikan petunjuk mengenai
tingkat kesukaran item itu dikenal dengan difficulty index, yang
dalam dunia evaluasi hasil belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P, yaitu
singkatan dari proportion. Menurut Witherington , angka indek kesukaran item
itu besarnya berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00. Artinya, indek kesukaran
itu paling rendah adalah 0,00, dan yang paling tinggi adalah 1,00. Angka indek
kesukaran item dapat diperoleh dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh
Rumusan
mencari indeks kesukaran menurut Daryanto (2005,180) adalah :
Atau
Dengan
P = Indeks
kesukaaran/kesulitan
B = Banyak siswa
yang menjawab benar
JS = Jumlah seluruh
siswa peserta tes
Contoh :
Jumlah siswa peserta
tes dalam suatu kelas ada 40 orang.dari 40 orang siswa tersebut 12 orang dapat
mengerjakan soal no 1 dengan betul. Maka indeks kesukarannya adalah:
Indeks Kesukaran (P) =
Berarti soal ini berada
dalam kategori sedang
Berdasarkan ketentuan
yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut :
- soal dengan P 0,00
sampai 0,30 adalah soal sukar
- soal dengan P 0,30
sampai 0,70 adalah soal sedang
- soal dengan P 0,70
sampai 1,00 adalah soal mudah
Tingkat
kesukaran butir soal memiliki 2 kegunaan, yaitu kegunaan bagi guru dan kegunaan
bagi pengujian dan pengajaran. Kegunaannyabagi guru adalah: (1)sebagai pengenalan konsep terhadappembelajaran
ulang dan memberi masukan kepada siswa tentang hasilbelajar mereka, (2)
memperoleh informasi tentang penekanankurikulum atau mencurigai
terhadap butir soal yang bias. Adapunkegunaannya bagi pengujian dan pengajaran
adalah: (a) pengenalankonsep yang diperlukan
untuk diajarkan ulang, (b) tanda-tandaterhadap
kelebihan dan kelemahan pada kurikulum sekolah, (c)memberi masukan
kepada siswa, (d) tanda-tanda kemungkinan adanyabutir soal yang bias, (e)
merakit tes yang memiliki ketepatan datasoal.Di samping kedua kegunaan di atas,
dalam konstruksi tes, tingkatkesukaran butir soal sangat penting karena tingkat
kesukaran butirdapat: (1) mempengaruhi karakteristik distribusi skor (mempengaruhibentuk
dan penyebaran skor tes atau jumlah soal dan korelasiantarsoal), (2)
berhubungan dengan reliabilitas. Menurut koefisienalfa clan KR-20, semakin
tinggi korelasi antar soal, semakin tinggireliabilitas.
b.
Teknik Analisis Daya Pembeda Item
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara
siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan siswa yang
tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan. Manfaat daya pembeda butir
soal adalah seperti berikut ini.
1) Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data
empiriknya. Berdasarkan indeks daya pembeda, setiap butir soal dapat diketahui
apakah butir soal itu baik, direvisi, atau ditolak.
2) Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat
mendeteksi/membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telah memahami atau
belum memahami materi yang diajarkan guru.
Indek
diskriminasi item itu pada umumnya diberi lambang dengan huruf D, dan seperti
halnya angka indek kesukaran item , maka indek diskriminasi item ini
besarannya berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00. Namun antara keduanya
memiliki perbedaan yang mendasar, yaitu: jika indek kesukaran item tidak
mungkin memiliki angka minus maka dalam indek daya pembeda dapat
bertanda minus.
Bagi suatu soal yang dapat dijawab benar
oleh siswa kemampuan tinggi dan siswa kemampuan rendah, maka soal itu tidak
baik karena tidak punya daya pembeda. Demikian juga jika semua kelompok bawah
menjawab salah dan siswa berkemampuan tinggi juga sama-sama menjawab salah, maka
soal itu tidak mempunyai daya beda sama sekali. Cara menentukan daya pembeda (
nilai D )
Cara menentukan daya pembeda ( nilai D
)yaitu perlu dibedakan antara kelompok kecil ( kurang dari 100 ) dan kelompok
besar ( 100 orang ke atas ).
a. Untuk kelompok
besar
Mengingat biaya dan waktu menganalisis,
maka untuk kelompok besar biasanya hanya diambil dua kutub saja yaitu 27% skor
teratas sebagai kelompok atas (JA) dan 27 % skor terbawahsebagai kelompok bawah
( JB)
b. Untuk
kelompok kecil
Seluruh kelompok tes di bagi dua sama
besar, 50% kelompok atas dan 50% kelompok bawah.
Contoh :
|
SISWA
|
SKOR
|
|
A
|
9
|
|
B
|
8
|
|
C
|
7
|
|
D
|
7
|
|
E
|
6
|
|
F
|
5
|
|
G
|
5
|
|
H
|
4
|
|
I
|
4
|
|
J
|
3
|
Seluruh pengikut tes dideretkan mulai
dari skor teratas sampai kepada skor terendah, lalu di bagi dua.
Rumus Mencari Daya Pembeda menurut
Daryanto ( 2005, 186) yaitu :
Dimana
:
D = Daya pembeda
J = jumlah peserta tes
JA = banyak peserta kelompok atas
JB = banyak peserta kelompok bawah
BA
= banyaknya peserta kelompok atas yang
menjawab soal itu dengan benar
BB = banyak peserta kelompok bawah yang menjawab
soal dengan benar
PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab
benar ( ingat P sebagai indeks kesukaran )
PB = Proporsi peserta kelompok bawah yang
menjawab benar
Dari hasil
analisis tes yang terdiri dari 10 butir soal yang dikerjakan oleh 20 orang
siswa, didapat skor sebagai berikut :
A = 5
F = 6
K = 7
P = 3
B = 7
G = 6
L =
5
Q = 8
C = 8
H = 6
M = 3
R = 8
D = 5
I = 8
N = 7
S = 6
E = 10
J = 7
O = 9
T = 6
Dari angka yang
belum teratur tersebut kemudian dibuat urutan penyebaran, dari skor yang paling
tinggi ke skor yang paling rendah.
Uraian ini menunjukkan adanya kelompok atas ( JA) dan kelompok bawah ( JB).
Pada uraian di atas dapat ditunjukkan kelompok A dan B. Dan hal ini mempermudah menentukan BA dan BB.
Dimana
BA = Banyaknya siswa yang menjawab benar pada kelompok
atas A dan
BB = banyaknya siswa yang menjawab benar pada kelompok
bawah B
Seperti yang
diketahui, soal yang baik adalah soal yang dapat membedakan antara anak
berkemampuan tinggi dengan anak berkemampuan rendah, dilihat dari dapat atau
tidaknya ia mengerjakan soal tes.
Bila diperhatikan tabel diatas,
dilihat khusus untuk butir soal no satu, dari kelompok atas yang menjawab benar
adalah 9 orang, dari kelompok bawah yang menjawab betul adalah 3 orang. Dan
diterapkan rumus daya pembeda maka :
PA
= 0,9 PB = 0,2
BA =
9 BB = 2
Maka D = PA – PB
= 0,9 – 0,2
= 0,7
Dengan demikian maka indeks
diskriminasi untuk soal no 1 adalah 0,7
Sekarang pembuktian untuk butir soal no 8
PA
= 0,8 PB = 0,9
BA =
8 BB = 9
Maka D = PA – PB
= 0,8 – 0,9
= - 0,1
|
Butir soal yang baik adalah butir – butir
soal yang mempunyai indeks diskriminasi 0,4 sampai dengan 0,7
|
Klasifikasi daya pembeda yaitu ;
D = 0,00 – 0,20 : jelek
D = 0,20 – 0,40 : cukup
D = 0,40 – 0,70 : baik
D = 0,70 – 1,00 : baik sekali
c.
Teknik Analisis Fungsi Distraktor
Pada saat membicarakan tentang tes obyektif bentuk
pilihan ganda, item telah dikemukakan bahwa pada tes obyektif tesebut telah
dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawaban atau yang dikenal
dengan alternatif. Altenatif jawaban itu jumlahnya berkisar antara 3 - 5 buah,
dan dari kemungkinan jawaban yang terpasang pada setiap butir item terpasang
sebuah jawaban dan sisanya sebagai pengecoh (disrtactor).
Bagaimana cara distractor dapat menjalankan
fungsinya dengan baik, kelajiman yang berlaku dalam dunia evaluasi hasil
belajar ialah, bahwa distractor itu sekurang-kurangnya dipilih oleh 5% peserta
tes. Berikut cara menganalisis fungsi distractor:
Dari sebuah item soal yang dilengkapi dengan
altenatif jawaban A, B, C, D, dan E di ikuti oleh 20 peserta tes, dengan hasil
sebagai berikut:
|
Item
soal
|
Alternatif jawaban
|
keterangan
|
||||
|
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
||
|
1
|
5
|
1
|
8
|
6
|
0
|
C
(kunci jawaban)
|
Dari data diatas dapat kita berikan sebuah
kesimpulan yaitu:
·
Pengecoh A dipilih oleh 5 orang teste
yang berarti:
5/20X 100%=25%, pengecoh sudah
berjalan dengan baik karena telah melebihi 5%.
·
Pengecoh B dipilih oleh 1 orang testee
yang berarti :
1/20X100%= 5%, pengecoh sudah berjalan
karena telah mencapai 5%
·
Pengecoh D dipilih oleh 4 orang testee
yang berarti:
6/20X100%= 30%, pengecoh berjalan
dengan baik karena telah melebihi 5%.
·
Pengecoh E tidak dipilih oleh peserta
testee yang berarti: 0/20X100%= 0, pengecoh tidak berjalan
C. MANFAAT
ANALISIS ITEM ATAU SOAL BUATAN GURU
Berikut ini
adalah beberapa manfaat dari analisis soal buatan guru:
1. Menetukan
apakah butir soal berfungsi tepat seperti yang dimaksudkan oleh guru. Untuk
menentukan apakah butir soal telah berfungsi semestinya, guru perlu
mempertimbangkan hal-hal berikut, diantanranya adalah:
a.
Apakah tes itu ditujukan untuk mengukur
pencapaian tujuan instruksional yang dimaksudkan?
b.
Apakah tes itu mempunyai tingkat
kesukaran yang memadai?
c.
Apakah kunci jawaban telah betul?
d.
Apakah distraktor berfungsi?
2. Umpan
balik bagi siswa mengenai penampilannya dan merupakan dasar untuk diskusi
kelas.
3. Umpan
balik bagi guru tentang kesulitan belajar bagi siswa.
4. Bidang-
bidang kurikulum yang memerlukan perbaikan.
5. Perbaikan
butir soal.
6. Meningkatkan
ketrampilan penulisan soal
7. Dapat
membantu pengguna tes dalam mengevaluasi kualitas tes yang digunakan.
8. Mendukung
penulisan butir soal yang efektif.
9. Meningkatkan
validitas soal dan realibilitas (Anastasi dan Urbina, 1997: 172).
Berbagai
uraian diatas menunjukkan bahwa analisis butir soal memberikan manfaat: (1)
menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi denganbaik; (2)
meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu, tingkatan
kesukaran, daya pembeda, dan pengecoh soal; (3) merevisi soalyang tidak relevan
dengan materi yang diajarkan, ditandai dengan banyaknya anak yang tidak dapat
menjawab butir soal tertentu.
BAB
III
PENUTUP
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
analisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menyakinkan
bahwa bahwa butir-butir soal tersebut bermutu dan memenuhi kriteria yang
ditentukan. Kriteria atau karakteristik yang baik adalah yang berkaitan dengan
tingkat kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh. Analisis butir soal
dapat dilakukan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Ada beberapa manfaat dari analisis soal
buatan guru: (1) menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi
denganbaik; (2) meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu,
tingkatan kesukaran, daya pembeda, dan pengecoh soal; (3) merevisi soalyang
tidak relevan dengan materi yang diajarkan, ditandai dengan banyaknya anak yang
tidak dapat menjawab butir soal tertentu.
Demikian makalah ini
kami buat, kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
sangat kami harapkan agar dalam penyampaian makalah selanjutnya lebih baik.
Semoga makalah ini dapat menambah keilmuan dan memberi manfaat bagi kita semua.
Amin
DAFTAR PUSTAKA
___________. 2013.AnalisisButir Soal .[Online].Tersedia:
___________. 2013. Analisis Butir Soal .[Online].Tersedia:
Arikunto Suharsimi,2013.Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan.Yogyakarta:
Bumi Angkasa
Sudaryono,2012. Dasar – dasar Evaluasi Pembelajaran.Yogyakarta: Graha Ilmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)